SURKASIH, IBU PENYAPU KAMPUS YANG SUKSES
Ibu
surkasih adalah seorang ibu tua penyapu kampus khususnya di Universitas Lancang
Kuning Pekanbaru. Ibu surkasih tinggal bersama anak-anaknya di sebuah rumah
yang sangat sederhana. Ibu surkasih bekerja seorang diri. Ibu surkasih tulang punggung
keluarganya. Demi menafkahi anak-anaknya yang masih sekolah, ibu surkasih rela
menyediakan waktunya untuk bekerja sebagai seorang penyapu. Ia harus sabar
melakukan pekerjaannya ini. Dengan gaji yang seadanya ini ia harus tetap bisa
menghidupi dirinya dan anak-anaknya.
Apapun
pekerjaan yang anda lakukan, kalau anda menikmatinya, maka pekerjaan itu adalah
anugerah bagi anda. Namun kalaupun anda tidak suka namun anda membutuhkannya,
lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Suatu hari, hal yang baik akan mengganjar
anda tanpa anda pernah duga sebelumnya. Seperti yang terjadi pada ibu tua ini.
Ia hanya bekerja sebagai seorang penyapu kampus. Ia bekerja dengan luar biasa
dan selalu semangat yang tiada batasnya. Saya sebagai penulis salut dengan ibu
surkasih yang selalu sabar dalam bekerja.
Saat
sudah sukses, rasanya tidak ada yang ingin kembali mengulang masa-masa susah.
Menikmati kesuksesan dan gemilang harta tentu lebih indah ketimbang bermandi
peluh dibawah terik matahari. Tapi hal itu tidak berlaku pada ibu surkasih, Ibu
tua yang bekerja sebagai tukang sapu.
Dinginnya
angin masih terasa di tubuh. Udara pun masih segar terasa. Matahari pun belum
sepenuhnya muncul di langit. Ketika semuanya masih terlihat gelap, Ibu surkasih
sudah berada di kampus dengan “bekalnya” setiap hari, sapu dan alat pembersih
lainnya.
Waktu menunjukkan
pukul 07:30 pagi, Netti dan teman-temannya yaitu Rosma, Niya dan Cherin dan
juga teman-teman nya yang lain sudah berada di kampus. Mereka adalah mahasiswa
Universitas Lancang Kuning, Setiap hari jumat-sabtu mereka masuk kuliah,
terkecuali hari minggu. mereka adalah teman sekelas dan sangat kompak satu sama
lain meskipun beda agama. Setibanya di dalam kelas mereka mulai mengikuti
kegiatan belajar dan mengajar dengan dosen yang bersangkutan.
"Hello guys, good morning .. okey before we start
our lesson, first we pray according to religion and their belief
respectively" Said lecturer.
Time
went on until 11:40, the learning process was completed and allowed to go
home. But, Netti and his friends always last home, because they do not want
to get home quickly. Suddenly the surkasih mother came and entered the class,
"Excuse me, her class will be cleaned first". Uncover mother
surkasih.
"Oh he, he's mom, sorry he's a bum" (they see mothers work surkasih).
Netti and his friends often see surkasih mothers working alone as a campus sweeper. In short...
Netti approached surkasih mother."Oh he, he's mom, sorry he's a bum" (they see mothers work surkasih).
Netti and his friends often see surkasih mothers working alone as a campus sweeper. In short...
"Mommy can I ask you a little about mother?" Netti said
"He can not" (while sweeping). Said mother surkasih
"Mother stayed where?" "(Ask Netti again).
"Ooh, Mother living behind a greenhouse, emm can pass her from behind the faculty of agriculture" (hurry away) and told Mother to go home first. I want to cook for lunch. Netti and his friends do not know too much about Surkasih's mother though they often meet on campus, because surkasih mother is busy with her work.
Hari
berganti hari, Bulan berganti bulan Ibu surkasih selalu ingat akan pekerjaanNya
dan ia begitu semangat, hanya karena untuk mencari sesuap nasi bagi
anak-ananknya dan biaya sekolah bagi anak-anaknya.
Ke esokan harinya tepat hari Rabu, 18
Oktober 2017 acara Yudisium menjelang wisuda yang di adakan di Pustaka
Komputer, Ibu surkasih ikut dalam acara yudisium tersebut.
Setelah acara selesai, Ibu surkasih mulai bergegas bekerja dengan mengambil bungkus minuman dan makanan yang kosong lalu mengumplkan nya dalam satu
pelastik lalu di buangnyaa, dan pada saat itu juga Netti dan Niya ikut dalam
acara yudisium tersebut yang bertugas sebagai PADUS(Paduan Suara), dan tidak
sengaja mereka berdua melihat ibu surkasih yang sedang bekerja mengumpulkan bungkus minuman dan makanan yang sudah kosong. Mereka berkata”kasihan ibu itu,
mungkin dia lelah, mari kita bantu”.
Netti dan Niya pun ikut membantu ibu
surkasih dengan mengumpulkan bungkus minuman dan sisa-sisa kotak makanan tersebut. "Thank you son, mother waist again sick, so hard nunduk" (Said
Mother surkasih).
"His mother" (while collecting).
"His mother" (while collecting).
Walaupun
pekerjaannya selalu bergelut dengan sampah dan polusi udara, yang dapat
mengganggu kesehatannya. Tetapi, Ibu surkasih selalu bersyukur akan keadaannya.
Sekalipun hidup berkecukupan, Ibu surkasih juga seorang yang baik hati, karena
masih mau membantu sesamanya. Jika ibu surkasih membuat makanan lebih dia suka
berbagi kepada tetangganya. Ia adalah adalah seorang yang sangat rendah hati.
Karena dengan berkecukupan ia masih ingat orang lain. Ibu surkasih sangat sabar
dalam bekerja, ia tidak peduli banyak atau dikitnya sampah yang berserakan, ia
tetap membersihkan nya, meskipun banyak mahasiswa yang buang sampah sembarangan,
tidak tahu tempat, mereka asal buang saja.
"Sometimes I think, try their parent's
position just like a surkasih mother, surely they pity see it, and do not want
to throw garbage carelessly. definitely our campus environment is clean, That's
right,
I agree ". Said Netti and his friends.
Sejauh
ini Ibu surkasih dimasa tuanya selalu sehat, ia pun menjalani pekerjaannya sangat
lancar. Pihak kampus juga selalu memberi semangat kepada ibu surkasih dan
terkadang pegawai kampus suka memberi makanan kepada ibu surkasih.
Disamping
sebagai penyapu kampus, ibu surkasih dan juga anak-anaknya memanfaatkan
barang-barang bekas untuk di jadikan kerajinan tangan. Menurutnya barang bekas
masih bisa menghasilkan uang. Ia mampu mengubah barang itu menjadi sesuatu yang
amat bernilai. Ibu surkasih memutuskan untuk memulai usaha ini. Namun pada saat
ingin membeli bahan baku cat untuk batik ia malah membeli cat untuk kaca. Ia pun
iseng-iseng, tapi ia mencoba untuk buat di botol, di gelas. Ternyata teman-teman
suka tutur ibu surkasih.
Namun,
kejadian itu tak serta merta membuat dirinya percaya diri untuk menumbuh
kembangkan usahanya menjadi besar. Pada saat itu, ibu surkasih masih menjual
produknya berdasarkan pesanan konsumen.
“saya buat dulu, karena pada dasarnya
saya hoby melukis” Ucap ibu surkasih.
Untuk mengembangkan usahanya itu ia
selalu menabung dari sedikit dari gaji hasil kerjanya dikampus sebagai penyapu.
Untuk urusan bahan baku, ibu surkasih mengaku
tidak kesulitan. Ia pun sering memesan botol-botol bekas penjual jamu.
Dengan modal
yang minim dan usaha yang sukses ibu surkasih mulai mengembangkan usahanya ini
dan menambah beberapa pegawai yaitu mahasiswa kampus di tempat ia bekerja. mahasiswa
tersebut sangat terkesan atas karya nya ibu surkasih yang begitu krea. tif
dalam mendaur ulang boto-botol bekas dan hasinya pun sangat menarik pelanggan.
Mahasiswa
yang bekerja juga mendapat keuntungan yang double, selain dapat uang tambahan
mereka juga mendapat ilmu yang sebelumnya mereka punya. Lewat karya-karya ibu
surkasih usahanyapun mulai tersebar keseluruh mahasiswa yang ada dikampus. Mereka
sangat menyukai barang-barang tersebut.
Ibu surkasih
terus berharap walaupun seorang penyapu kampus semoga usaha kecil yang sedang
ia bentuk ini berjalan dengan lancar. Ibu surkasih juga tidak pelit berbagi
ilmu kepada semua orang. “jika saya tahu apa yang saya tahu, saya sangat senang
berbagi ilmu dengan semau orang.” Tegas ibu surkasih.
Setiap
hari libur kampus, Ibu surkasih tetap mengamankan kampus supaya selalu terlihat
bersih dan indah. Dan jika ada acara-acara tertentu Ibu surkasih dapat uang
tambahan karena membersihkan beberapa ruangan yang dipakai saat itu. Ibu surkasih
sangat beruntung dengan pekerjaannya sebagai penyapu kampus. Ibu surkasih masih
menghormati batas bagaiamana laki-laki dan perempuan bisa bekerja di lingkungan
dengan porsi yang sama. Ibu surkasih mengtakan karir yang dijalainya saat ini
tentu akan ada puncaknya. Ibu surkasih ingin suatu saat nanti dia bisa
mendedikasikan diri sebagai motivator penyalur ilmu yang sudah digelutinya saat
ini. “Kalau nanti saya semakin tua, tentu tidak mungkin terus bergelantung
dengan tali, meski tidak ada batasan usianya” Ucap ibu surkasih sambil ketawak.
wkwkwkwkkk
Pesan Moral : Apapun yang kita kerjakan, lakukanlah dengan ihklas yaitu rasa bersyukur dan harapan. karena roda kehidupan akan selalu berputar kelak membuat kita berhasil.
Pesan Moral : Apapun yang kita kerjakan, lakukanlah dengan ihklas yaitu rasa bersyukur dan harapan. karena roda kehidupan akan selalu berputar kelak membuat kita berhasil.
THANK YOU, HOPEFULLY USEFUL.👍😉
Tidak ada komentar:
Posting Komentar